Kamis, 26 Februari 2009

Jamur Tiram: Nilai jual Jamur Tiram

Selain lidah buaya yang kini telah menjadi ikon Pontianak, Kota Khatulistiwa juga mempunyai potensi agrobisnis lainnya yang juga memiliki prospektif dan nilai ekonomis tinggi untuk dikembangkan. Selamat datang calon trademark baru Kota Pontianak, jamur tiram khatulistiwa.

Ribuan baglog tersimpan berjejer di dalam sebuah ruangan. Ada sekitar lima baris. Satu baris tersimpan 480 baglog. Baglog yang berisi serbuk kayu itu tidak lagi berwarna cokelat. Sekujurnya telah berwarna putih.

Di ujung baglog itu tumbuh buah yang membesar dan bewarna putih. Seperti tiram. Umurnya sekitar 30 hari. Ya, itulah jamur tiram yang bahasa latinnnya disebut Pleurotus ostreatus.

Jamur-jamur tersebut siap dipanen. Sang petani, Wasis Krisnadi, memetiknya dengan tangan. Dia dibantu oleh dua pekerja lainnya. Setelah memanen jamur itu, ruangan tersebut disemprotnya dengan air hujan. Hal itu dilakukan untuk menjaga kelembaban ruangan.

Kelembaban merupakan syarat mutlak dalam masa pemeliharaan jamur. Selama masa pemeliharaan suhu dan kelembaban harus berkisar 20-22 derajat celcius dan kelembaban 95-100% dengan cara pengembunan kumbung. Ada alat khusus yang bisa memantau kelembabab itu yang digantungkan Krisnadi di dalam ruangan.

Awalnya coba-coba

Pria yang pada 21 Oktober nanti genap berusia 26 tahun ini pada awalnya hanya bermodalkan coba-coba untuk mengembangkan jamur tiram ini. Alumnus Universitas Gajah Mada Fakultas Kehutanan ini dari awal memang berniat untuk mencari sesuatu yang baru untuk dikembangkan. Berwiraswasta dengan berbudidaya jamur menjadi pilihannya.

Sempat berhenti usaha pada pertengahan tahun 2007 lalu, kini Krisnadi mulai giat lagi membudidayakan jamur pada awal tahun 2008 hingga sekarang. Hasil budidayanya kini semakin terkenal. Beberapa restoran dan hotel mulai menjadi rekanannya. Jamur tiram yang dilabelinya bernama ‘Mushroom Prima Pontianak’ ini juga dijual di beberapa supermarket di kota ini.

Karena jumlah produksinya yang belum terlalu massal, pria lajang kelahiran Sambas ini mengaku kewalahan meerima pesanan jamur. “Ini peluang yang sangat bagus,” katanya.

Dibantu empat pekerja, Krisnadi menjalankan budi daya jamur tiram ini di Parit Pangeran Dalam, Jalan Budi Utomo Kecamatan Pontianak Utara. Ia juga mulai aktif mengikuti pameran-pameran di kota ini untuk lebih mengenalkan hasil budidayanya.

Kita masih dalam kapasitas kecil, belum besar,” katanya. Bagaimana dengan perhatian pemerintah untuk menunjang usahanya? Ia mengaku pernah sekali mendapatkan bantuan dari Pemprov Kalbar melalui Badan Pemuda Olahraga dan Pemberdayaan Perempuan. Bantuan itu dikelola olehnya untuk membuat ruang inokulasi.

Modal kecil

Untuk membudidayakan komoditas pertanian yang prospektif dan memiliki nilai ekonomis tinggi ini ternyata tidak memerlukan biaya yang cukup besar.

Untuk budi daya plasma, di mana hanya memerlukan pengerjaan inkubasi dan proses pemeliharaan diperlukan modal awal sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta. “Baglog yang sudah ditularkan bibit miselium (inokulasi) tinggal beli saja. Kami juga menyediakannya,” katanya.

Sedangkan untuk berbudidaya jamur tiram dari proses awal dengan kapasitas 3.000 baglog, diperlukan dana sekitar Rp15 hingga Rp20 juta. “Seperti usaha yang kami rintis ini, dana yang dikeluarkan sekitaran Rp20 juta,” katanya.

Omzet perhari yang dia dapatkan berkisar Rp110 ribu. Setiap hari, dia bisa memanen sekitar 3 kg jamur tiram. Harga jamur di pasaran yang sangat tinggi, menjadi keuntungan tersendiri untuk budidaya ini. Satu kemasan jamur dengan berat 2 ons dijual dengan harga Rp7.500.

Budidaya jamur tiram secara profesional banyak dilakukan para petani di Pulau Jawa termasuk daerah Sunda. Berbagai jenis jamur yang dikenal dan umum dikonsumsi masyarakat adalah jamur tiram, jamur Campignon (jamur kancing).

Mengonsumsi jamur diketahui banyak manfaatnya. Beberapa khasiatnya sebagai obat anemia, memperbaiki gangguan pencernaan, mencegah tumor, kanker, hipertensi, dan kencing manis serta dapat menurunkan kadar kolesterol.

Bahkan Ibnu Sina, bapak ilmu kedokteran, banyak menggunakan jamur pada resep pengobatan penyakit berbahaya,” kata Krisnadi. Disamping menjaga vitalitas (afrodiziak) baik untuk laki-laki maupun perempuan, jamur juga membantu mengatasi kekurangan gizi karena kaya akan vitamin.

Jamur juga dikenal mengandung berbagai macam asam amino yang bermanfaat bagi tubuh seperti leusine, isoleusine, valine, lysine, tritophan, treonine, methionine, phenylalanin dan Histidin. “Karenanya jamur disebut juga sebagai makanan para Dewa,” kata alumnus SMAN 1 Pontianak ini.

Salah satu makanan alternatif bagi para vegetarian karena rasanya seperti daging ayam ini juga banyak diekspor ke negara seperti Singapura, Taiwan, Jepang dan Hongkong.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar