Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Tanaman Hortikultura dan Teknologi Makanan Politeknik Negeri Lampung, dari bulan April sampai Juni 2005. Bahan penelitian utama adalah jamur tiram segar, 3 jenis film plastik ketebalan 0.03 mm (polipropilen, polietilen low density (LDPE), polietilen hight density (HDPE), trayfoam ukuran 15x 15 x 5 cm. Alat yang digunakan berupa; Refrigrator/Inkubator, timbangan/neraca, sealer film plastik 30 cm, hand refraktometer, pH meter, dan alat titrasi.
Penelitian dilakukan mengikuti rancangan faktorial dalam waktu dengan rancangan lingkungan acak kelompok lengkap dalam 3 ulangan. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk memgetahui kriteria panen dan perlakuan pascapanen jamur tiram sebagai dasar perlakuan berikutnya. Perlakuan penelitian kedua berupa jenis film plastik pengemas 3 taraf (polietilen low density (LDPE) (P1), polietilen hight density (HDPE) (P2), polipropilen (P3) dan suhu penyimpanan 2 taraf (5'C (Si) dan 10'C (S2). Sedangkan perlakuan penelitian ketiga berupa; rasio berat jamur segar tiap kemasan 3 taraf (13% (B1), 26% (B2), dan 39% (B3) dan lama penyimpanan 4 taraf (5 hari (WI), 10 hari (W2), 15 hari (W3), dan 20 hari (W4). Peubah yang diamati berupa : (1) Mutu fisik dan (2) Daya simpan (hari). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan program Minitab dan uji Turkey (BNJ) pada tingkat nyata 0.01 dan 0.05, diikuti analisis kecendrungan dengan regresi polinomial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Jenis film plastik polipropilen tebal 0.03 mm sebagai kemasan jamur tiram butih yang dipanen dengan kriteria bentuk tudung bulat, sisi tudung belum pecdh eitau bentuk tudung bulat, sebagidh sisi tudung telh berberigi/pecah maksimal 25%, tanpa menyertakan tangkai dan bertangkai t I CM yang disimpan pada suhu 5'C dapat mempertahankan perubahan fisik, kimiawi, dan menghasilkan daya simpan jamur tiram segar lebih lama; (2) Rasio berat jamur per volume kemasan 39% yang disimpan pada suhu 5'C menghasilkan perubahan mutu fisik dan kimiawi jamur tiram segar lebih baik dengan daya simpan selama 17-20 hari; (3) Mutu fisik, kimia, dan daya simpan jamur tiram segar terus menurun sejalan dengan lama penyimpanan dan dipengaruhi secara simultan oleh kriteria panen, perlakuan pascapanen, jenis film pengemas, suhu penyimpanan, dan rasio berat jamur per kemasan.
Sumber artikel: Erie Maulana Sy
Penelitian dilakukan mengikuti rancangan faktorial dalam waktu dengan rancangan lingkungan acak kelompok lengkap dalam 3 ulangan. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk memgetahui kriteria panen dan perlakuan pascapanen jamur tiram sebagai dasar perlakuan berikutnya. Perlakuan penelitian kedua berupa jenis film plastik pengemas 3 taraf (polietilen low density (LDPE) (P1), polietilen hight density (HDPE) (P2), polipropilen (P3) dan suhu penyimpanan 2 taraf (5'C (Si) dan 10'C (S2). Sedangkan perlakuan penelitian ketiga berupa; rasio berat jamur segar tiap kemasan 3 taraf (13% (B1), 26% (B2), dan 39% (B3) dan lama penyimpanan 4 taraf (5 hari (WI), 10 hari (W2), 15 hari (W3), dan 20 hari (W4). Peubah yang diamati berupa : (1) Mutu fisik dan (2) Daya simpan (hari). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan program Minitab dan uji Turkey (BNJ) pada tingkat nyata 0.01 dan 0.05, diikuti analisis kecendrungan dengan regresi polinomial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Jenis film plastik polipropilen tebal 0.03 mm sebagai kemasan jamur tiram butih yang dipanen dengan kriteria bentuk tudung bulat, sisi tudung belum pecdh eitau bentuk tudung bulat, sebagidh sisi tudung telh berberigi/pecah maksimal 25%, tanpa menyertakan tangkai dan bertangkai t I CM yang disimpan pada suhu 5'C dapat mempertahankan perubahan fisik, kimiawi, dan menghasilkan daya simpan jamur tiram segar lebih lama; (2) Rasio berat jamur per volume kemasan 39% yang disimpan pada suhu 5'C menghasilkan perubahan mutu fisik dan kimiawi jamur tiram segar lebih baik dengan daya simpan selama 17-20 hari; (3) Mutu fisik, kimia, dan daya simpan jamur tiram segar terus menurun sejalan dengan lama penyimpanan dan dipengaruhi secara simultan oleh kriteria panen, perlakuan pascapanen, jenis film pengemas, suhu penyimpanan, dan rasio berat jamur per kemasan.
Sumber artikel: Erie Maulana Sy
